HAMIL SEROTINUS, apakah berbahaya????


HAMIL SEROTINUS, apakah berbahaya????
" Udah dibiarin aja, nanti kalau sudah saatnya keluar pasti perutnya mules-mules. Gak usah dipaksain. Bayi pinter kok, punya tanggal lahir sendiri".
Mungkin itulah salah satu tanggapan ketika mendengar kata dirangsang atau dipacu ketika hamil sudah melebihi bulan atau serotinus. Masih banyak anggapan yang beredar bahwa melahirkan adalah proses alami, jadi misal 9 bulan lebih pun belum lahir dianggap tidak apa-apa.
Kehamilan Serotinus atau kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang telah berlangsung selama 42 minggu (294 hari) atau lebih, pada siklus haid teratur rata-rata 28 hari dan hari pertama haid terakhir diketahui dengan pasti.
Menurut Fadlun (2011) seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan postterm atau serotinus belum jelas. namun beberapa teori menyatakan kehamilan serotinus dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
1)Pengaruh Progesteron
Pengaruh hormon progesteron dalam kehamilan di percaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekular pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya KLB (Kehamilan Lebih Bulan) atau kehamilan serotinus adalah karena masih berlangsungya pengaruh progesteron.
2)Teori Oksitosin
Pemakaian untuk induksi persalinan pada KLB (Kehamilan Lebih Bulan) atau Kehamilan Serotinus member kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis. Wanita hamil yang kurang pelepasan oksitosin dari neurohipofisis pada kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab KLB atau kehamilan serotinus.
3)Teori kortisol atau ACTH (Adrenocorticotropic Hormone) janin.
Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “ pemberi tanda ” untuk dimulainya persalinan adalah janin. Hal ini diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi esterogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. pada janin yang mengalami cacat bawaan seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.
4)Syaraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masing tinggi, semua hal tersebut diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan Serotinus.
5)Herediter
Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan serotinus atau KLB (Kehamilan Lebih Bulan), mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya.
Pendapat lain mengatakan bahwa kehamilan serotinnus atau KLB (Kehamilan Lebih Bulan) juga bisa di pengaruhi oleh beberapa hal antara lain :
a)Cacat bawaan (ex : Anencephalus).
b)Difisiensi sulfatase plasenta.
c)Pemakaian obat obatan yang berpengaruh pula sebagai tokolitik anti prostaglandin (ex : albutamol, progestin, asam mefenamat, dan sebagainya).
d)Tidak di ketahui penyebabnya.
e)Pada kasus insufisensi plasenta atau adrenal janin, hormon prokusor yaitu isoandrosteron sulfat diskresikan dalam cukup tinggi konversi menjadi estradiol dan secara langsung estriol didalam plasenta, contoh klinik mengenai defisiensi prekusor esterogen adalah anencephalus.
√ Manifestasi klinis dari kehamilan serotinus yaitu
1.Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang, yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali / 20 menit atau secara obyektif dengan kardiotokografi kurang dari 10 kali / 20 menit.
2.Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi :
a)Stadium I : Kulit kehilangan verniks kaseosa dan
terjadi maserasi sehingga kulit menjadi kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
b)Stadium II: Seperti stadium satu namun disertai dengan
pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit.
c)Stadium III : Seperti stadium satu namun
disertai dengan pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat (Nugroho, 2012).
√ Patofisiologi dari kehamilan serotinus adalah
Mochtar (2010) menyatakan patofisiologi pada ibu hamil dengan indikasi serotinus adalah :
1.Penurunan hormon progesterone dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses persalinan dan meningkatkan sensitifitas uterus terhadap oksitosin, sehingga penulis menduga bahwa terjadinya kehamilan postterm karena masih berlangsungnya pengaruh progesterone.
2.Oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab kehamilan postterm.
3.Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah janin masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.
√ Komplikasi dari kehamilan serotinus yaitu
1.Perubahan pada plasenta
Menurut Fadlun (2011) Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi pada kehamilan serotinus atau KLB (Kehamilan Lebih Bulan) dan meningkatnya risiko pada janin. Perubahan yang terjadi pada plasenta adalah sebagai berikut.
a)Pada kehamilan serotinus atau KLB (Kehamilan Lebih Bulan) terjadi peningkatan penimbunan kalsium, hal ini dapat menyebabkan gawat janin dan bahkan kematian janin intrauterin yang dapat meningkat sampai 2-4 kali lipat. Timbunan kalsium plasenta meningkat sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta, namun beberpa vili mungkin mengalami degenerasi tanpa mengalami klasifikasi.
b)Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang, keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transport dari plasenta.
c)Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema, timbunan fibrinoid, fibrosis, thrombosis intervili, dan infark vili.
d)Perubahan biokimia, adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA (deoxyribonucleid Acid) dibawah normal, sedangkan konsentrasi RNA (Ribonucleid Acid) meningkat. Transport kalsium tidak terganggu, aliran natrium, kalium, dan glukosa menurun. pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi seperti asam amino, lemak, dan gama globulin biasanya mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intauterin .
2.Pengaruh pada janin
Menurut Mochtar (2010), Pengaruh kehamilan postterm atau serotinus terhadap janin sampai saat ini masih di perdebatkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kehamilan serotinus menambah bahaya pada janin, sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya kehamilan postterm atau serotinus terhadap janin terlalu dilebihkan.
√ Beberapa pengaruh kehamilan postterm atau serotinus terhadap janin sebagai berikut.
a.Berat janin
Bila terjadi perubahan anatomi yang besar pada plasenta, maka terjadi penurunan berat janin. Sesudah umur kehamilan 36 minggu, grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu. Namun, sering kali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan.
b.Sindrom postmaturitas
Dapat dikenali pada neonatus melalui beberapa tanda seperti, gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti kertas (hilangnya lemak sub kutan), kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks kaseosa dan lanugo, maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genital luar, warna coklat kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat, serta muka tampak menderita dan rambut kepala banyak atau tebal. Tidak seluruh neonatus dari kehamilan serotinus menunjukkan postmaturitas, tergantung dengan fungsi plasenta. Umumnya didapat sekitar 12-20% neonatus dengan tanda postmaturitas pada kehamilan serotinus.
c.Gawat janin atau kematian perinatal menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu atau lebih, sebagian besar terjadi intrapartum. Keadaan ini umumnya disebabkan karena hal-hal berikut :
1)Makrosomia yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan.
2)Insufisiensi plasenta dapat berakibat :
a)Pertumbuhan janin terhambat.
b)Oligohidramnion (terjadi kompresi tali pusat, keluar mekonium yang kental).
c)Hipoksia janin.
d)Aspirasi mekonium oleh janin.
3)Cacat bawaan, terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus.
3.Pengaruh pada ibu
a.Morbiditas atau mortalitas ibu dapat meningkat sebagai akibat dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras sehingga menyebabkan terjadinya distosia persalinan, incoordinate uterine action, partus lama, meningkatkan tindakan obstetrik, dan perdarahan postpartum.
b.Dari segi emosi, ibu dan keluarga menjadi cemas bilamana kehamilan terus berlangsung melewati taksiran persalinan (Fadlun, 2011).
Setelah mengetahui semua hal yang berkaitan dengan kehamilan serotinus, jika bunda hamil dan ketika tanggal taksiran kelahiran belum ada tanda-tanda persalinan. Segera datang ke Bidan ataupun Dokter untuk memeriksakannya ya.
Semogo bermanfaat 
Bidan Oveeta_29
Midwefery