NORMLKAH BILA SI KECIL SERING PEGANG ALAT KELAMINNYA???

 

NORMLKAH BILA SI KECIL SERING PEGANG ALAT KELAMINNYA???

    Pernahkah bunda melihat si kecil memainkan alat kelaminnya?. Bahkan tidak hanya memegang, ada yang menempelkannya pada bantal, kemudian menggesek-gesekannya?

Rasa khawatir pasti muncul ya Bunda, ketika si kecil melakukan itu. Kebanyakan hal tersebut dilakukan oleh anak laki-laki memang. Pikiran seolah dihantui, apa yang sedang terjadi. Untuk usia yang tergolong sangat dini untuk merasakan sensasi kenikmatan. Mungkin bunda juga berfikir, apakah si kecil mempunyai kelainan sek.

Menurut Roslina Verauli M Psi, psikolog klinis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta, hal yang dilakukan si kecil tersebut tidak selalu mengarah pada masturbasi atau upaya mencari kenikmatan dengan merangsang alat kelamin.
Beliau mengatakan ada 2 hal yang bisa menyebabkan anak sering memegang alat kelaminnya. Yang pertama bisa gatal karena kurang higienis atau bersih, yang kedua si kecil memang mengenal rasa nikmat dari alat kelaminnya.

Sigmund Freud dalam teorinya yang terkenal
 " PSIKOANALISIS" membagi 4 fase psikoseksual pada anak,yaitu:

1. Fase Oral, dari lahir anak sudah mulai mendapat kenikmatan lewat mulutnya entah itu melalui puting payudara ibu atau bahkan dari botol susu.

2. Fase Muskuler, ini terjadi pada umur 2 sampai 3 tahun, bunda perhatikan ketika anak-anak bunda dengan manja minta dipeluk atau ditimang-timang. Inilah fasenya bunda.

3. Fase Anal Uretral, Fase ini pada usia 3 atau 4 sampai dengan 5 tahun. Pusat kenikmatan anak terletak pada anus/dubur dan saluran kencing. Jadi sangat wajar jika apa yang dialami para batita yang suka mainkan alat kelaminnya pada usia tersebut. Dengan catatan tidak berlebihan dan tetap diperlukan pengawasan.

4. Fase Genital, ketika anak sudah diusia 6 tahun maka anak akan melepaskan Fase Anal dan mulai ingin tahu lebih banyak tentang kelaminnya. Nah sebaiknya pada usia inilah bunda mulai menjelaskan perbedaan kelamin pada anak dan sebutkan namanya tanpa mengganti dengan sebutan lain. Misalkan dulu sering berkata "jangan mainin little elephantnya nanti sakit," nah kalau sudah usia 6 tahun harus ganti strategi ya Bun...

√ Meski fase tersebut normal, ada beberapa hal yang harus bunda lakukan agar si kecil tidak melakukan hal tersebut secara terus menerus. Apalagi menjadi kebiasaan yang dibawanya sampai besar.

1. Menanyakan dengan Lembut. Mengapa dirinya suka memegang alat kelaminnya?

 Dengan menanyakan alasannya, orangtua bisa mengedukasi anak, apa yang dilakukannya itu tidak baik. Peluk dan beri perhatian. Ketika anak mendapat cukup perhatian dan berinteraksi mesra dengan orangtuanya, praktis ia akan teralihkan dari kebiasaan memegang alat kelaminnya. Kontak fisik yang menyiratkan kasih sayang orangtua lebih efektif dalam menasihati anak daripada dilakukan secara tegas.
2. Mengajak bermain. Mengalihkan perhatian anak dengan memberinya mainan kesukaan merupakan salah satu langkah efektif. Tentu saja orangtua perlu menemaninya bermain agar ia tak mengulang kebiasaannya.

√ Hal-hal yang harus dihindari ketika memperingatkan si kecil yang suka memegangi kelaminnya adalah

1. Jangan mempermalukan anak.

Mengejek atau memarahinya di depan orang lain agar anak malu melakukannya justru tak akan membuat anak menghentikan kebiasaannya. Bahkan, bisa membangun persepsi yang salah soal seks kepada anak.

 2. Menampik tangan anak.

 Tanpa penjelasan verbal atau hanya menampik tangan anak agar tak memegangi alat kelaminnya tak akan membuatnya mengerti letak kesalahannya.

3. Memarahi dengan emosi tinggi.

Ketika si kecil suka memegangi alat kelamin, kebanyakan orangtua malu dan ingin menunjukkan superioritasnya dengan memarahinya. Hal ini justru membuat pola komunikasi orangtua-anak menjadi rusak dan tak tertutup kemungkinan anak akan bermasturbasi sembunyi-sembunyi.


Setelah membaca penjelasan diatas, so, bunda jangan terlalu tergesa panik jika si kecil mainkan alat genitalnya ya. Karena kebiasaan itu akan hilang seiiring waktu, yang penting pastikan dalam pengawasan bunda. Bahwa yang dilakukan masih dalam batas kewajaran dan direntan usia tepat fase.

Semoga bermanfaat 😉

Bidan Oveeta_29
Kompas,DokterSehat
Parenting