NORMALKAH KENCING ANAK KITA???






NORMALKAH KENCING ANAK KITA

Sebelum menilai normal atau tidaknya kencing anak kita, ada baiknya kita mengetahui dulu sistem perkemihan. Taukah Bunda, saluran kencing pada manusia terbentuk ketika usia kehamilan 7 minggu?

Ketika kita bicara masalah perkemihan, organ utama dalam sistem tersebut adalah ginjal. Fungsi ginjal adalah sebagai penyaring dari zat-zat sisa yang dihasilkan oleh metabolisme dalam tubuh. Fungsi penyaring ini pada saat lahir belum sempurna, namun berkembang terus sehingga fungsinya akan sama dengan ginjal dewasa pada saat anak berusia 2 tahun.

Di usia 2 tahun pula, si kecil sudah dapat merasakan keinginan untuk buang air kecil dan mulai kencing di toilet. Tetapi, pada umumnya kemampuan untuk tidak mengompol pada anak saat tidur, baru bisa didapat ketika anak berusia 3 tahun.

 💧 Hal-hal yang harus dilakukan untuk menilai kencing anak kita normal atau tidak yaitu

1. PANTAU LEWAT WARNA

Untuk mengetahui adanya gangguan berkemih, paling awal adalah dengan melihat warnanya.
Warna urine yang normal/sehat pada anak sama seperti pada orang dewasa, yaitu berwarna kekuningan jernih.

Tingkat warna kekuningan pada urine dipengaruhi jumlah cairan yang dikonsumsi. Ada pun derajat warna urine yang baik dapat dilihat dari urinee chart seperti berikut:

- Derajat warna urine dan jumlah urine menggambarkan kondisi hidrasi pada anak. Dapat pula menunjukkan adanya gangguan pada fungsi hati atau empedu, misalnya pada hepatitis.
a. Jika berwarna kuning pekat atau seperti warna teh, artinya tubuh kekurangan cairan.
Warna urine yang kuning cokelat bisa disebabkan kurang cairan pada anak.

b. Bila urine berwarna merah atau merah cokelat dapat berarti anak dalam kondisi dehidrasi berat atau  terdapat gangguan pada ginjal. Sedangkan warna merah pada urine dapat disebabkan oleh darah di urine.

Faktor makanan yang dikonsumsi juga dapat memberikan warna kemerahan pada urine, misalnya setelah anak mengonsumsi buah naga merah atau bit merah.

Kondisi ini tentu tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa jenis obat juga dapat memberikan warna urine yang kemerahan atau oranye terang. Contoh, rifampicin pada pengobatan tuberculosis (TBC).

c. Jika warna urine putih seperti susu atau keruh, hal ini berarti terdapat infeksi pada saluran kemih anak.
Segera konsultasi dengan dokter dan lakukan pemeriksaan penunjang seperti urinealisa serta USG ginjal dan kandung kemih.

d. Kalau warna kebiruan pada urine dapat disebabkan oleh pewarna pada makanan, suplemen, konsumsi obat-obatan  seperti amitriptyline, indomethacin dan propofol.
Atau dapat disebabkan oleh suatu  kelainan bawaan yang sangat jarang, berupa hiperkalsemia yang diturunkan. Selain itu, warna biru kehijauan dapat disebabkan oleh adanya infeksi oleh bakteri pseudomonas.

2. PANTAU FREKUENSI DAN VOLUME

Sebenarnya Frekuensi berkemih bervariasi tergantung usia dan perkembangan kapasitas kandung kemih. Frekuensi berkemih berubah dari 5 sampai 2 kali per 4 jam saat anak tumbuh dari usia 3 bulan hingga ke 3 tahun.

√ √ Kapasitas kandung kemih pada anak dapat diperkirakan dengan rumus  (usia +2) x 30. Misalnya usia 5 tahun berarti kapasitas buli di kandung kemih: (5+2)x 30 = 210 cc.

√√ Ada juga hitungan yang lebih sederhana, yaitu 1-2 cc/kgBB/jam. Jadi kalau seorang anak beratnya 20 kg, maka per jam, urine yang keluar adalah 20-40 cc karena jumlah inilah yang menjadi kapasitas kantung kencing.

Setiap anak yang minumnya normal, biasanya akan kebelet pipis setiap jam sekali.

Bila frekuesi BAK kurang, berarti kantung kencing tidak penuh sehingga anak tidak kebelet pipit. Kemungkinan besar anak kurang minum. Bisa kita perhatikan, semakin anak kurang minum, warna urinennya pasti akan semakin pekat.

Sebaliknya, keadaan bisa berbalik. Frekuensi berkemih si kecil berlebihan. Frekuensi kencing yang berlebihan dapat disebabkan :

- konsumsi cairan yang banyak
- udara dingin
- kondisi psikologis sedang stres atau gugup (misalnya sedang mau ujian).

 Hal ini tidak menjadi masalah apabila kencingnya sering, namun jumlah urinenya banyak/normal setiap kencing.

Namun apabila frekuensi kencing sering, bahkan berlebihan, namun yang keluar hanya sedikit (istilah-nya “icrit-icrit”), bisa jadi ada infeksi di saluran kemih atau karena kandung kemih yang terlalu sensitif.

Jika bunda mengetahui tanda-tanda tersebut, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Jadi selain frekuensi, warna, maka volume urine si kecil pun harus Ibu pantau. Sekali lagi, apabila kencing sering dan keluarnya sedikit saja per episode kencingnya, maka ini berarti ada masalah.

Semoga bermanfaat 😉

Bidan Oveeta_29
Alodokter
Nakita